Menu

Wenger Masih Takut Pensiun

arsene wengerBulan Oktober nanti Wenger akan menandai 20 tahunnya bersama Arsenal. Usai karier yang cukup panjang di kursi kepelatihan, pensiun menyisakan rasa takut baginya.

Wenger mendarat di Arsenal pada musim 1996/1997. Berbagai kesuksesan ia raih dalam satu dekade pertama bekerja sebagai arsitek The Gunners, termasuk memenangi trofi Premier League dengan semusim tak terkalahkan.

Namun sekarang situasi manajer Prancis berusia 66 tahun itu berbeda 180 derajat. Gelar juara Liga Primer yang ia raih adalah 13 tahun lalu, sedangkan di lima musim belakangan dia cuma bisa memberikan dua trofi Piala FA dan Community Shield.

Dengan situasi seperti itu lantas muncul desakan supaya Wenger hengkang dari Arsenal mulai terdengar keras dari tribun penonton. Mengingat kontrak Wenger bakal tuntas musim depan, 2016/2017 tentu jadi penentu bagi Wenger apakah dia bisa bertahan lebih lama lagi sebagai juru taktik ‘Gudang Peluru’.

Namun ternyata ada satu hal yang membuat Wenger ketakutan. Bukan karena lama tak dapat gelar bergengsi, namun justru pensiun yang ia takutkan. Setidaknya itulah yang ada dalam buku Game Changers: Inside English Football yang ditulis Alan Curbishley.

“Sepakbola sudah ada dalam sebagian besar hidup saya, dan jujur saja, saya merasa sedikit takut dengan momen itu (saat pensiun). Karena kian lama saya menanti (pensiun), kian sulit saya untuk menghilangkan candunya,” ucap Wenger seperti dikutip dari Mirror.

“Usai Alex pensiun dan kami menghadapi mereka (Manchester United), dia memberikan pesan apakah saya menikmati minum bersamanya. Saya bertanya: ‘Apakah kamu merindukannya?’ Dia bilang: ‘Sama sekali tidak’. Saya tidak memahaminya. Itu merupakan kekosongan dalam hidup, terutama ketika anda melewati hidup anda dengan menunggu pertandingan selanjutnya dan coba memenanginya,” terang Wenger lagi.

Sudah lebih dari 30 tahun Wenger menjadi manajer. Dia memulai kariernya bersama Nancy di Liga Prancis pada tahun 1984, lalu berlanjut ke AS Monaco, dan Nagoya Grampus Eight sebelum tiba di Arsenal.

“Apabila sebuah laga berjalan benar-benar baik, saya mungkin pergi keluar bersama rekan atau keluarga untuk makan malam atau minum-minum. Apabila tidak saya akan langsung pulang dan menonton laga sepakbola lainnya dan melihat manajer lain menderita.”

“Bila kami kalah, itu merusak akhir pekan saya. Namun saya telah belajar banyak selama bertahun-tahun dengan kekecewaan dan kembali lagi. Yang menolong ialah ketika anda datang (ke klub) berbicara dengan asisten, dan terkadang mengikuti sesi latihan dan memulai lagi semuanya dengan fresh.”